Pre Test
1. Kapan
Teknik Normalisasi digunakan dalam mengembangkan Database?
Pada
dasarnya normalisasi merupakan teknik yang formal yang bisa digunakan di tahap
manapun dalam perancangan sistem database. pada umumnya ada dua pendekatan
tentang penggunaan normalisasi. Yang pertama adalah pendekatan 'bottom-up' dan
yang kedua disebut pendekatan 'top-down'.
Pendekatan bottom-up dan
top-down dalam menggunakan normalisasi dalam perancangan basis data
Seperti
bisa dilihat pada gambar di atas, pendekatan 1 (approach 1) menunjukkan
kapan/dimana normalisasi digunakan sebagai teknik 'standalone' dalam
perancangan basis data sementara pada pendekatan 2 (approach 2) menunjukkan
kapan/dimana normaliasi bisa digunakan sebagai teknik validasi untuk mengecek
struktur relasi-relasi yang dihasilkan dengan pendekatan top-down seperti ER
modeling. Tidak perlu dipusingkan pendekatan mana yang digunakan, tujuan
keduanya adalah sama yaitu menghasilkan relasi-relasi yang terdesain dengan
baik yang memenuhi data requirements perusahaan.
Gambar
ilustrasi diatas juga menunjukkan contoh
berbagai sumber data yang bisa digunakan untuk perancangan basis data. Meskipun spesifikasi users’ requirements
adalah sumber data yang pada umumnya lebih diutamakan, tetapi mungkin juga
untuk merancang basis data berdasarkan informasi yang diambil langsung dari
sumber data lainnya seperti form-form atau report-report tradisional seperti
yang dilustrasikan dalam posting tulisan tentang: “Contoh proses normalisasi
relasi dari UNF – 1NF – 2NF – dan 3NF”.
Gambar
di atas juga menunjukkan bahwa sumber data yang sama bisa juga digunakan untuk
kedua pendekatan tersebut, namun demikian, meskipun hal itu secara prinsip
betul, pada praktinya pendekatan yang diambil cenderung ditentukan oleh ukuran,
batas, kompleksitas basis data yang digamnarkan dalam sumber data dan oleh
preferensi dan keahlian dari si desainer basis data. Pilihan untuk menggunakan
normalisasi sebagai teknik bottom-up (pendekatan 1) seringkali lebih terbatas
yang disebabkan oleh tingkat detil yang ingin dikelola oleh si desainer basis
data, tetapi keterbatasan semacam itu tidak akan terjadi ketika normalisasi
digunakan sebagai teknik validasi (pendekatan 2) karena si desainer basis data
hanya berfokus pada bagian dari basis data, misalnya suatu relasi tunggal, pada
satu waktu. Jadi, tidak peduli berapa besar ukuran atau kompleksitas basis
data, normalisasi bisa diterapkan dan tetap berguna.
Post
Test
1. Jelaskan
tahapan normalisasi
TAHAPAN
NORMALISASI : Tahapan Normalisasi dimulai dari tahap ringan (1NF) hingga paling
ketat (5NF). Biasanya hanya sampai pada tingkat 3NF atau BCNF karena sudah
cukup memadai untuk menghasilkan tabel-tabel yang berkualitas baik. Urutannya :
1NF, 2NF, 3NF, BCNF, 4 NF, 5NF
a) Bentuk
Tidak Normal
b) Bentuk
Normal Pertama (1NF) : Menghilangkan Perulangan Grup
c) Bentuk
Normal Kedua (2NF) : Menghilangkan Ketergantungan Parsial
d) Bentuk
Normal Ketiga (3NF) : Menghilangkan Ketergantungan Transitif
e) Bentuk
Normal Boyce-Code Form (BCNF) : Menghilangkan anomali-anomali hasil dari
ketergantungan fungsional
f) Bentuk
Normal Keempat (4NF) : Menghilangkan ketergantungan multivalue
g) Bentuk
Normal Kelima : Menghilangkan anomali-anomali yang tersisa
1. Un-Normal
Form
·
Berupa relasi umum, sesuai kenyataan
·
Mencerminkan item data nyata
·
Mencerminkan bagian dari suatu sistem
·
Belum dapat digunakan sebagai database
·
Bentuk Flat Table menggambarkan
jumlah atribut
2. Bentuk
Normal Tahap Pertama (1NF)
·
Bentuk normal 1NF terpenuhi jika sebuah
tabel tidak memiliki atribut bernilai banyak (multivalued attribute), atribut
composite atau kombinasinya dalam domain data yang sama.
·
Setiap atribut dalam tabel tersebut harus
bernilai atomic (tidak dapat dibagi-bagi lagi).
3. Bentuk
Normal Tahap Kedua (2NF)
·
Bentuk Normal 2NF terpenuhi dalam sebuah
tabel jika telah memenuhi bentuk 1NF, dan semua atribut selain primary key,
secara utuh memiliki Functional dependency pada primary key.
·
Sebuah tabel tidak memenuhi 2NF, jika ada
atribut yang ketergantungannya (Functional Dependency) hanya bersifat parsial
saja (hanya tergantung pada sebagian dari primary key).
·
Jika terdapat atribut yang tidak memiliki
ketergantungan terhadap primary key, maka atribut tersebut harus dipindah atau
dihilangkan.
4. Bentuk
Normal Tahap Ketiga (3NF)
·
Bentuk normal 3NF terpenuhi jika telah
memenuhi bentuk 2NF, dan jika tidak ada atribut non primary key yang memiliki
ketergantungan terhadap atribut non primary key yang lainnya,
·
Untuk setiap Functional Dependency dengan
notasi X-->A, maka :
·
X harus menjadi superkey pada tabel
tersebut.
·
Atau A merupakan bagian dari primary key
pada tabel tersebut.
5. Boyce-Code
Normal Form (BCNF)
·
Bentuk BCNF terpenuhi dalam sebuah tabel,
jika untuk setiap Functional Dependency terhadap setiap atribut atau gabungan
atribut dalam bentuk : X --> Y maka X adalah Super Key.
·
Tabel tersebut harus di dekomposisi
berdasarkan Functional Dependency yang ada, sehingga X menjadi super key dari
tabel-tabel hasil dekomposisi.
·
Setiap tabel dalam BCNF merupakan 3NF.
Akan tetapi setiap 3NF belum tentu termasuk BCNF. Perbedaannya, untuk
Functional Dependency X--> A, BCNF tidak membolehkan A sebagai bagian dari
primary key.
6. Bentuk
Normal Tahap Keempat (4NF) atau MVD dan PJNF
·
Bentuk normal 4NF terpenuhi dalam sebuah
tabel jika telah memenuhi bentuk BCNF, dan tabel tersebut tidak boleh memiliki
lebih dari sebuah multivalued attribute.
·
Untuk setiap multivalued attribute (MVD) juga harus
merupakan Functional Dependency
7. Bentuk
Normal Tahap Kelima (5NF)
·
Bentuk normal 5NF terpenuhi jika memiliki
sebuah loseloss decomposition menjadi tabel-tabel yang lebih kecil.
·
Jika 4 bentuk normal sebelumnya dibentuk
berdasarkan Functional Dependency, 5NF dibentuk berdasarkan konsep Join
Dependence. Yakni apabila sebuah tabel telah di dekomposisi menjadi tabel-tabel
lebih kecil, harus bisa digabungkan lagi untuk membentuk tabel semula.
8. Overnormalisasi
·
Analisa Overnormalisasi diperlukan jika :
·
Database ini digunakan untuk sistem multi
user
·
Tabel-tabel yang sudah normal ini
digabungkan dengan fungsi lain yang ada di lapangan, misalnya; untuk fungsi
retur, untuk fungsi inventori, untuk fungsi sales order maupun order pembelian,
untuk fungsi keamanan database, dan lain-lain.
2. Buat penggunaan Teknik Normalisasi untuk contoh
kasus basis data "Perpustakaan"
1. Bentuk Tidak Normal (UNF)
Syarat
:
Masukan
semua atribut yang ada pada dokumen dasar (Dokumen Masukan dan Dokumen
Keluaran) pada satu himpunan.
Langkah
:
Masukan
semua atribut yang ada pada dokumen masukan (Form Data Anggota, Form Data User
dan Form Buku) dalam satu himpunan.
2. Bentuk
Normal Pertama (1NF)
Syarat
:
-
Tidak ada baris yang duplikat
-
Masing
masing Cell atau Atribut bernilai tunggal
Langkah
:
-
Hapus / Buang atribut yang duplikat (pada
kotak merah) yang ada pada Bentuk Tidak Normal (UNF) menjadi Cell yang bernilai
tunggal pada himpunan baru Normalisasi Bentuk Pertama (1NF).
-
Tentukan atribut yang akan dijadikan
Candidate Key (Calon Kunci yang akan menjadi Kunci Utama).
Keterangan
:
*
Candidate Key
3. Bentuk
Normal Kedua
Syarat
:
-
Sudah dalam bentuk Normal Pertama.
-
Semua atribut yang tidak termasuk dalam
Primary Key memiliki ketergantungan fungsional pada Primary Key secara utuh.
Langkah
:
Buat
tabel baru dengan setiap himpunan yang saling ketergantungan secara fungsional
antara atribut Primary Key dan atribut bukan kunci (atribut yang tidak memiliki
kunci).
4. Bentuk
Normal Ketiga (3NF)
Syarat
:
Menghilangkan
anomali-anomali hasil dari ketergantungan fungsional.
Langkah
:
-
Sudah dalam bentuk Normal Kedua
-
Pisahkan atribut yang merupakan atau
menjadi atribut detail (tidak tergantung secara langsung kepada atribut Primary
Key). Pisahkan atribut (pada kotak merah) dari himppunan / dari tabel asal
pisahkan ke tabel baru.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar